Traveling Part 5
Garis cakrawala membatasi lautan dengan
jingga awan diselimuti biru langit yang
mulai memudar. Lautan siap melahap habis keperkasaan matahari sore itu. Cahaya yang
kian meredup dan tinggalah diperistirahatan diperut ibu pertiwi bagaikan
didalam rahim. Nampak sekian pasang mata menyaksikan menjadi saksi hidup hingga
menjadi pengagum setia senja. Senja adalah sajak kedamaian.
Juni,
pertengahan tahun. Seminggu lagi Ramadhan menjumpai. Ramadhan 1438 H tahun
lalu. Mesjid-mesjid mulai sesak dengan pengajian, pasar-pasar dikota daeng
mulai ramai dikunjungi para ibu-ibu rumah tangga, lengkap dengan keluarga
kecilnya masing-masing. Ramadhan bukan hanya sekedar spiritualisme bahkan
sampai merambat keharga sembako yang membumbung tinggi. Entahlah mungkin saja
kapitalisme tidak mengenal agama.
Sore itu
saya kembali menyusuri jalan poros penghubung antar kabubaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang selalu padat, apalagi
seminggu menjelang Ramadhan seperti ini. Beberapa orang teman memilih menemani
saya menembus jalan menanjak menuju kabupaten Gowa daerah yang masuk dalam
kerajaan Gowa dimasa kerajaan di bumi nusantara. Ketimbang menembus rapat
merayapnya pasar terong dan pasar senggol atau menyaksikan romantisme senja
sekedar berburu sunset atau siluet dipantai losari. Jalan menuju Danau
Tanralili, danau yang lagi heboh-hebohnya di mesia social Instagram kala itu. Namaun
sayangnya media yang satu ini tidak membuat saya tertarik, media yang mencari followers
bagai agama mencari penganut.
Jalan potong
Hartasning ke gerbang perbatasan kabupaten Gowa dengan kota Makassar, menanjak
sedikit dan menembus jalan poros menuju kota Bunga Malino yang masih masuk
kedalam wilayah Kab. Gowa. Jalan yang familiar sebelas duabelas dengan jalan
menuju kampus atau kosan. Entah setan apalagi yang merayu, disaat jutaan umat
muslim dunia yang taat menyibukan diri tenggelam didalam kitab suci dan sujud
khusyuk menguatkan iman menyambut bulan yang suci, kami malah menguatkan otot
kaki dan pungung menapaki tiga tanjakan penyesalan menuju Danau Tanralili.
Sebut saja
ini olahraga fisik menguatkan stamina menyambut hari-hari penuh dahaga dan
godaan hawanafsu dibulan yang sakral sekelas bulan suci Ramadhan 1438 H. Danau
Tanralili yang terletak di desa lengkese kabupaten Gowa, danau yang terbentuk
akibat dari proses alam yang secara alami. Dikisahkan longsor dari gunung Bawakaraeng
dan aliran air yang jernih dari gunung ditampung dan membentuk danau indah ini.
Namun danau indah yang harus dibayar nyawa oleh penduduk dibawah kaki gunung
yang kehilangan desa dan keluarga tercinta. Dibalik keindahan selalu ada kisah
tragis, selalu keindahan dibungkus dengan kesusahan, begitu kiranya makna yang
tersirat dari danau yang indah ini.
Sejam menyusuri
poros kota Bunga, jalan yang berkelok dan menanjak bagai sulaman benang wol .
kami menembus gelap gulitanya jalan dan hawa dataran tinggi yang menusuk-nusuk
tulang bagai jarum. Hingga akhirnya berbelok menurun menuju desa Parigi Kab. Gowa.
Jalan yang mulai samar diingatan, tiga tahun silam saya melewati jalan ini
dengan lima orang teman setelah seminggu melintasi gunung Lompobattang dan Bulubaria. Sungguh ini
malam yang pekat mengubur ingatan, arah menuju desa Majannang kab. Gowa lenyap
seketika diingatan setelah menemui persimpangan. Jelas sangat berat berjudi
dengan ketidak tahuan. Maka dengan keterbatasan jaringan internet dan ketidak
tersediaan peta yang memang dianggap tidak perlu maka jadilah kata-kata warga local
bagai nasehat rantau seorang nenek.
Desa Majannang
masih segar diingatan. Desa yang kira-kira duapuluh menit sebelum desa Lengkese.
Seorang pak desa paruh baya yang bersedia memberi ruang istirahat dan makanan
alakadarnya setelah sehari menuruni gunung Bulubaria tiga tahun silam pernah
mengisahkan Danau Tanralili yang kala itu belum setenar sekarang. Desa yang religious,
mesjid yang berada tepat ditikungan jalan itu selalu melagukan shalawat,
terlihat beberapa tetua sedang khusyuk berdjikir sedang yang lainya tadarusan. Kembali
kami berda pada jalur yang benar menuju desa Lengkese, pintu masuk Danau
Tanralili.
Dua jam
meninggalkan kota Daeng. Kota yang kami sebut rumah, Setelah keluar dari rumah lengkap dengan
peralatan tracking lengkap dengan carrier delapan puluh liter menjepit tulang
punggung dan berbagai bekal bagai takjil. Malam itu menunjukan puku Sembilan malam,
setelah melewati beberapa petak rumah terakhir, cahaya motor mulai membelah
kegelapan persawahan dan menanjak melewati jalan yang disebelah kiri jalan
merupakan jurang yang menganga. Desa terakhir, pintu masuk Danau Tanralili tepat
didepan sana. lagi seorang lelaki paruh baya yang kami panggil tata dalam
bahasa bugis menyambut entah yang kesekian kalinya katanya hari itu.
Setelah bersalam-salaman,
tata menyambut kami bagai kerabat jauh yang lama tak berjumpa. Mulailah kopi
hitam dituangkan kedalam gelas kacanya, dan juga kue bagea dibagikan untuk
menghangatkan badan. Tata yang hanya bersarung dan berjeket tipis seolah tidak
terpengaruh dengan hawa dingin yang membekukan seiring larutnya malam. Tata mulai
bercerita panjang lebar sejalan dengan kopi pahit yang mulai merangsang ingatan
masa lalunya. Mulailah beliau banggakan Danau Tanralili yang menjadi idola baru
dan icon wisata didesa Lengkese. Desa menjadi ramai diakhir pekan, dihari-hari
biasa juga tak kalah ramai, desa tidak pernah sepi pengunjung dari berbagai
komunitas dari segala penjuru Sulawesi Selatan tuturnya dengan wajah
berseri-seri.
Tata mulai
menghitung dan menanyakan kominitas kami, tepat Sembilan orang, tujuh laki-laki
dan dua perempuan. Tidak heran jika tata menanyakan kominitas kami, melihat
banyaknya sticker berbagai warna komunitas pencinta alam menempel dijendela
kaca depan rumahnya. Sticker itu bagaikan kebanggaan tersendiri, tata tidak
butuh followers di Instagram, dengan sticker yang sesak memenuhi jendela kaca rumahnya
sudah menjelaskan popularitasnya dikalangan pencinta alam. Hampir saja saya
menjawab kami adalah komunitas sesat mengingat bulan suci Ramadhan seminggu
lagi menjumpai. Komunitas kami, seorang teman yang lebih dewasa segera memberi jawaban
yang selayaknya, komunitas pertemanan yang sebenarnya satu sama lain baru
berkenalan dirumah tata. Begitulah pertemanan terjalin dalam sebuah perjalanan.
Tata mulai
menerangkan rute tracking mengingat tidak seorangpun diantara kami pernah
mengunjungi Danau Tanralili sebelumnya. Rute kira-kira memakan waktu dua jam
terangnya, jalur tracking kurang lebih bebatuan dan sedikit menanjak jelasnya. Berhubung wilayah yang
dituju adalah daerah rawan longsor maka kewaspadaan akan bahaya harus
dikedepankan. Tata menasihati untuk selalu berhati-hati. Malam itu juga setelah
meniupkan puja-puji kealam semesta serta meminta restu keselamatan kepada
Pemilik alam semesta. Dengan berbekal pengetahuan yang minim akan kondisi jalur
tracking, kami nekat menyusuri jalur membelah malam gulitanya rimba pegunungan.
Rembulan menjadi
pelita menerangi jalan sempit yang dihimpit lembah dan jurang. Remang rembulan
menampakan siluet pegunungan yang menghimpi. Kami berjalan beriringan
meruntuhkan ego masing-masing. kami saling bergantian mencari jalur pendakian,
dan sesekali berhenti meluruskan badang ditepian anak sungai sembari mencerna
air jernih dari pegunungan yang masih alami. air tanpa kemasan yang komersil. Mulai
lagi kami membunuh waktu dengan langkah-langkah kecil yang berirama, keakraban
mulai tercipta atas dasar kepentingan yang sejalan.
Langit malam
berbintang menjadi atap yang menenangkan. Ilusi akan angkernya rimba hutan
berubah menjadi tempat paling nyaman dihamparan bumi. sesekali berpaspasan
dengan kawanan sapi yang merumput dibawah kaki gunung tidak jauh dari
perkebunan warga, suara jangkrik dan aroma dedaunan yang segar bagai menghirup
udara dari surga dan saya menyangkali hutan yang diandaikan sebagai pintu
neraka yang angker dalam kisah-kisah dongeng. Gunung dan rimba hutan serta
mahkluk hidup yang bermukim didalamnya adalah keharmonisan kehidupan yang
sebanrnya.
Tanjakan penyesalan
pertama sukses kami lalui dan disambut dengan jalur menikung menurun. Kami memilih
meluruskan betis sejenak. Dari kejauhan, diketinggian ini terlihat gemerlap
cahaya lampu-lampu perkotaan di kota Daeng
mengubur cahaya bulan dan bintang, sunggu perkotaan yang kejam membunuh
malam yang anggun. Beberapa teman perjalanan mulai merenungi perjalanan,
rata-rata dari mereka, ini adalah perjalanan pertama hingga ketiga kalinya
dititik ketinggian yang berbeda. Titik ketingian selalu member makna dan
candunya sendiri teruntuk mereka yang bebas.
Dua tanjakan
penyesalan berikutnya sukses kami lewati tnpa terkecuali. Perjalanan yang
mengejutkan, saya berjalan dengan orang-orang yang kuat perihal melangkahkan
kaki dibebatuan nan licin bekas longsoran gunung Bawakaraeng ini. Bias cahaya
lampu head lamp mulai bertebaran dikejauhan, camp terakhir Danau Tanralili
mulai nampak didepan mata. Beberapa teman mulai mempercepat langkah seiring
dengan semakin dekatnya camp terakhir. Malam yang semakin larut perut yang
mulai keroncongan membunuh alasan untuk berjalan santai. Akhirnya sampailah
kami di tepian Danau Tanralili yang sudah sesak dipenuhi tenda para pejalan
yang mengakhiri akhir pekan terakhir menjelang Ramadhan. Tiga tenda kami bangun
dengan segera, dua tenda untuk laki-laki dan satu tenda khusus perempuan, tenda
yang dibangun sengaja berdekatan menandakan kami merupakan kelompok yang sama. Lalu
memasak makanan malam sebelum tidur menggigil dilembah pegunungan dan tepian
danau yang mulai menebarkan hawa dingin yang khas dari pegunungan.
| Koki Indomi telur |
Saya bertugas
sebagai koki malam itu. Segera kompor gas kecil dan nesting saya keluarkan dari
carrier delapanpuluh literku. Seorang teman dengan sigap tanpa aba-aba sudah
beres mencuci beras dan menyiapkan air dari danau, sungguh ini merupakan kombinasi manusia kelaparan. Perihal meracik
makanan alakadarnya diatas ketinggian seperti ini saya tergolong kedalam
manusia yang terlatih. Makan malam siap saji ala indomi telur terasa berbeda
ditepian danau seperti ini, diracik dengan sepenuh hati hasil latihan
sehari-hari dikosan. Beberapa orang teman masih sibuk menguatkan pasak tenda
dari terjangan angin malam. Angin dari pintu angin dari gunung Bulubaria
bisikku tak seorangpun mengerti. Tiga tahun yang lalu badai digunung bulubaria
sukses memutuskan satu tali webbing yang tergolong teruji disegala medan. Badai
dari pintu angin melahap tenda kami tanpa pamrih. Maka jadilah malam paling ribut,
angin seolah meluapkan kekesalanya pada tali yang kokoh terikat. Siluet dari
tebing dan lembah yang mengelilingi danau ini membuat saya penasaran dan
berimajinasi akan indahnya danau yang konon kabarnya tidak kalah indah
dibandingkan Ranukombolo yang mulai dipenuhi dengan sampah.
Santap malam
telah usai. Kopi hangat sengaja saya sediakan untuk menemani kisah-kisah
nostalgia dari seorang teman perjalanan. Ia adalah seorang penyelam ulung dari
lautan kepulauan tukang besi. Dalamnya misteri lautan telah ia salami berkali-kali
namun tentu itu semua tidak memuaskan dahaga jiwa yang penuh akan perjalanan. Empat
lelaki tangguh dari kepulauan tukang besi ikut menemani trip perdana Danau
Tanralili. Belakangan saya baru menyadari salah seorang perempuan yang ikut
juga berdarah kepulauan tukang besi. Nenek moyang kami jelas seorang pelaut
bukan seorang pendaki yang ulung. Sungguh apa gerangan yang terjadi, masyarakat
pesisir pantai ini tersesat dirimba hutan. Manusia mengabaikan habitat alami dan
dengan cepat beradaptasi dengan segera. Atas dasar kecintaan akan alam semesta
maka alam yang perkasa menerima dengan lapang. Kisah-kisah kampung halaman
sukses meninabobokan saya didalam sleeping bag ditepian Danau Tanralili.
Pagi menjelang
cahaya pagi mengembalikan sedikit stamina. Embun membasahi tenda, beberapa
teman masih terjaga didalam sleeping bagnya masing-masing. Kubuka jendela kecil
tendaku. Seandainya pagi selalu memesona dengan pemandangan alam seperti ini. Danau
yang melebihi segala ekspektasi dipandangan pertama. Lagi saya masih jatuh
cinta pada alam semesta. Danau yang kontras dengan perkotaan, jernih dihiasi
dengan tenda beragam warna mengelilinginya, beberapa penghuni tenda melemparkan
joranya ke danau mencari peruntungan sebagai sarapan pagi. Sungguh perjalanan
yang sarat akan makna.
Pagi itu
sebelum matahari bergulir semakin terik kami segera mendokumentasikan segala
momen. Mengabadikan cerita kedalam sebuah cetak foto adalah cara terbaik
menjaga kenangan. Segera kami tapaki tebing menjulang diatas danau. Tebing yang
sengaja diciptakan Tuhan yang Maha Esa untuk memamerkan pesona Danau Tanralili.
Diatas tebing itu kami bisa dengan leluasa mengabadikan landscape Danau
Tanralili lengkap dengan tenda-tenda yang mengelilinginya. Biru danau yang
menggambarkan kedalaman, keindahan sejati dengan pantulan lembah dan pegunungan
di jernih airnya. Keindahan yang tak sempat dicerna oleh kekaguman.
Cerita hari
itu selesai dengan peralatan yang mulai dirapikan kembali didalam carrier
delapan puluh liter. Kembali telapak kaki diuji menuruni lembah-lembah
penyesalan. Perjalanan pulang selalu lebih cepat, namun segalanya tidak pulang
begitu saja, rasa dan kenangan masih berada didalamnya danau. Tidak main-main
saya mengunjunginya empat kali dengan kelompok yang berbeda. Dan perjalanan
pertama adalah cerita perjalanan yang sesungguhnya.
Kembali kami
mengunjungi rumah tata untuk pamit. Kota daeng selalu terbuka lebar menyambut
kami yang akan pulang. Kembali kami susuri jalanan kota yang penuh dengan
kehidupan manusia. Seminggu setelahnya adalah kisah-kisah dilembaran kitab suci
AL-Quran. Perintah dan janji-janji didalam bulan suci adalah keniscayaan dari
Allah SWT. Hakikat sebuah ibadah adalah antara Allah SWT dengan hambanya . maka
hambanya tidak perlu memamerkan kedekatan, biarlah kecintaan tetap sejati
didalam hati. Cinta adalah tindakan yang mesti dipertanggung jawabkan. Begitulah
kiranya para ulama menggambarkan cinta kepada Pemilik semesta yang megah ini.
Alam dan
pemiliknya adalah bagian yang tidak terpisahkan. Mengagumi alam otomati
mengagumi penciptanya. Semesta yang megah merupakan karya abadi dari Zat yang
memenuhi segalanya. Sering menapaki pegunungan, lembah ataupun danau memberi hikmah
nurani. Candu yang mendekatkan jalan kepada Pencipta alam yang sebenarnya. Terimakasih
telah mengembalikan kami kejalan yang lurus. Jalan yang meyakini akan
ciptaanya. Keyakina yang hanya milik satu yang mengkhendaki segala ciptaan. Manusia
mecari dan mengagumi dengan caranya masing-masing.
Muh. Fajri
Salam
Morowali 23
Desember 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar