Tampilkan postingan dengan label LIVE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LIVE. Tampilkan semua postingan

On My Way to Kupang.!



Hari itu, setelah beberapa hari yang membosankan begitu saja berlalu, akhirnya tiket penerbangan menuju Eltari Kupang saya kantongi. Saya di tugaskan disana untuk beberapa bulan survey jalan nasional Nusa Tenggara Timur. Saya sengaja mengambil pekerjaan ini, selain memang sedang membutuhkan pekerjaan, NTT menjadi magnet tersendiri. NTT akhir-akhir ini menjadi wisata prioritas di Bumi Ibu Pertiwi, pesonanya mulai mendunia, bahkan pribumipun bermimpi ingin menyambanginya.

Traveling atau megunjungi tempat-tempat baru sudah menjadi angan-angan saya sejak dahulu, banyak tempat saya masukan dalam list, mengunjungi tempat baru setiap tahunnya menjadi prioritas besar dalam resolusi ketika tahun berganti. Ketika menyambangi tempat baru sejujurnya saya tidak terlalu tertarik pada kegiatan-kegiatan mainstream seperti ke laut lalu menyelam, ke gunung lalu mendakinya atau ketempat-tempat populer, itu semua prioritas nomor dua, jika mampu melakukannya itu menjadi bonus dalam perjalanan. Saya lebih tertarik pada kultur, kehidupan dan peradaban masyarakan dari masa-kemasa, melihat perubahan atau masyarakat yang masih menjaga kulturnya menjadi sesuatu yang paling menyenangkan.

Matahari baru bersiap beranjak dari peraduanya, penerbangan menuju timur Indonesia selalu seperti ini. tiket tertera jam 4 subuh, beruntunglah di kota dengan kehidupan yang sudah moderen ini berangkat jam berapapun tidak menjadi masalah. Pagi itu saya memesan jasa Taxi online, dan tidak begitu lama menunggu pengemudinya sudah menjemput, wajar saja jalan terasa luas di jam-jam seperti ini. di dalam mobil, seperti biasanya untuk menghilangkan rasa bosan saya membuka percakapan dengan pengemudi. Menurut saya selalu ada cerita menarik dari setiap orang, dan benar saja, kami menceritakan banyak hal, mulai dari penumpang-penumpang aneh di jam-jam tidur masyarakat normal, hingga ia pun bisa menebak kalau saya pasti akan ke timur Negeri ini.

Bandara Sultan Hasanuddin terasa sepi di jam-jam seperti ini, di sekeliling orang – orang memecah keheningan dengan menyeruput kopi dan mengisap beberapa batang rokok. Beberapa orang terlentang terlelap di kursi-kursi tidak sanggup melawan rotasi bumi, ini memang jam-jam kritis untuk manusia normal. Saya langsung melakukan chek in dan membagasikan barang bawaan, hal-hal seperti ini selalu berkesan, selalu ada kata terbesik di dalam hati “akhirnya”.

Setelahnya saya mulai terbawa ke dalam lamunan, seperti apa Kota Kupang, bagaimana orang-orang disana, bagaimana makanannya, bagaimana cuacanya. Kota yang begitu asing, padahal kita sama-sama terlahir dari rahim Ibu Pertiwi. Orang – orangnya, saya mulai memikirkan orang-orang timur yang tergila-gila dengan musik, yang suaranya merdu dan beberapa tingkah kocak. Orang timur juga sedikit kasar, namun itu tidak begitu menganggu, kita masih sama-sama orang timur di dalam hati saya mencari pembelaan.

Akhirnya saya masuk juga kedalam pesawat, ini akhirnya yang kedua yang terbesik didalam hati. Saya duduk di kursi paling depan, ini pengalaman pertama duduk di paling depan, berhadapan dengan Pramugari dan pintu darurat. Saya berpikir jika terjadi situasi emergency mungkin saya hanya akan menyelamatkan Pramugarinya, mungkin itu akan menjadi kisah yang menarik ketimbang tidak ada sama sekali yang selamat. Sesekali dia menangkap mataku yang menatapnya, dia mungkin sudah mulai curiga dengan apa yang saya pikirkan atau mungkin dia sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan. Setelahnya saya mulai tertidur dan melupakan rencana penyelamatan yang tidak mungkin terjadi itu, saya berharap tidak ada kisah yang menyenangkan di balik bencana.

Setelah dua jam berlalu kami mendarat mulus di bandara Eltari, saya melirik keluar jendela, saya penasaran seperti apa bandara International Eltari. Bandara ini ternyata masih dalam proses pembangunan baik gedung dan landasan, suara gurindam lebih ramai daripada suara-suara manusia-manusia yang beraktivitas disana. Mungkin setelah dua tahun kemudian saya mengunjunginya lagi bandara ini akan menjadi salah satu bandara terbaik di negeri ini. Beberapa turis juga terlihat menunggu bagasi, beberapa orang turis menenteng peralatan surfingnya dan ya pada akhinya saya menginjakan kaki di kota kupang. Kota kupang adalah basecamp kami, setelahnya kami akan ke banyak tempat di NTT, di Bandara Eltari saya sudah sedikit mendapat gambaran seperti apa orang-orang yang akan saya temui nantinya.

Setelah menunggu beberapa bagasi, saya di jemput Ibu Lia, seorang ibu yang baik dan pekerja keras yang bertugas di kantor cabang wilayah Kupang. Ibu lia menjadi beberapa ibu-ibu yang menurut saya baik, sosok ke ibuanya begitu kental, dan selama beberapa bulan di kupang ia menjadi orang paling berjasa membantu kami mengurusi segala sesuatu yang kami butuhkan. Ibu-ibu seperti ini pada akhirnya menjadi refernsi bujang seperti saya dalam memikirkan pasangan hidup kedepanya, hehehe.

Saya di antar ke Kantor cabang dan bertemu beberpa team yang tidak asing, saya pernah bertemu beberapa dari mereka sebelumnya. Kantornya diluar ekspektasi saya, awalnya saya membayangkan orang-orang bepakaian formal dan berwajah garang. Namun ini sungguh luar biasa, ini seperti rumah yang nyaman, dinamika kehidupan berjalan menyenangkan, awalnya saya menjadi orang baru dan kemudian mulai akrab ke semua team. Dalam suasana keragaman seperti ini saya selalu menanamkan toeransi, saya tidak ingin menjadi magnet yang hanya memihak pada satu sisi, saya ingin menjadi kedua tangan yang merangkul.


Pada akhirnya, setelah perjalanan yang luar biasa, sesuatu yang baru sealau luar biasa, saya menyerah juga menjadi manusia tidak normal, saya merebahkan badan di kasur dan berharap bangun dengan cerita yang lebih mendebarkan.

Muh. Fajri Salam  




SIAL MASA CUTI USAI



THIS ABOUT MY MOM


Hari ini hari terakhir masa cutiku. 12 hari sengaja saya habiskan bersama ibu dirumah. Ini pertemuan kesekian ribu kalinya bersama ibu. Saya memang selalu meninggalkanya entah itu seperti dahulu kala saat merantau untuk mencari ilmu, dan sekarang saya harus pergi lagi untuk mempertaruhkan karir, juga harapan dikehidupan yang fana ini. Perpisahan merupakan hal yang lumrah dikeluarga ini, entah saya yang pergi atau mereka yang pergi.

Saya menemui ibu di sebuah kota kecil di Kerajaan Buton. Ibu sudah sepuluh bulan disana menghabiskan waktu menemani nenek yang kami cintai. Sudah tiga tahun nenek sakit-sakitan terkulai lemas di kasur malasnya atau dikursi rodanya. Aktivitas fisik nenek hanya duduk dan tidur saya sangat sedih melihatnya badanya kegemukan, lemak dari makanannya menimbun tak pernah dibakar. Nenekku yang bebas kemana-mana dahulu kini kehilangan kebebasanya.

Ibu menjaga nenek dengan ikhlas. Ibu sudah yatim piatu dua tahun lalu. Lalu nenek adalah yang terakhir sekarang yang ibu dan ayah miliki, juga yang kami semua miliki. Keluarga kami tercerai berai, saya yang harus mewujudkan mimpiku akhirnya menemukan batu loncatan pertama di Morowali, kedua kakakku juga sama memulai karir di dua sudut 180 derajat, terpisah antara Makassar dan Wakatobi, kedua adikku juga sama sekolah di tempat dan kota yang berbeda, juga ayah yang hilir mudik menunaikan tugasnya sebagai Pegawai Negeri, tinggallah ibu dirumah menjaga yang paling berharga di keluarga kami.

Saya menghabiskan 12 hariku menemani ibu. Ibu memang tidak suka keluar rumah keluar jalan-jalan ke toko atau tempat perbelanjaan lain yang lebih mewah seperti plaza seperti ibu-ibu gaul di era moderen ini. Tidak ibu lebih senang dirumah kontras dengan saya yang lebih suka berpetualang kemana-mana, namun didekat ibu saya selalu memilih berdiam memerhatikanya, petualanganku lebih menantang didekat ibu, saya akan memerhatikanya memasak, membersihkan rumah, menonton film india di Tv, dan menahan hawa nafsu meminum kopi, ah kenapa juga ibu harus melarangku minum kopi walaupun aturan itu hanya berlaku jika bersama ibu.

Ah saya khawatir ibu sakit-sakitan kemarin. Ia habis jatuh di kamar mandi kini tulang rusuknya yang bengkok nyaris saja mengenai hati. Belum lagi sakitnya yang dulu gara-gara terpeleset tulang pinggangnya juga bermasalah, lalu beberapa minggu yang lalu jatuh lagi ketika hendak menjenguk nenek. Saya khawatir ibu beberapa kali jatuh, memang ia masih nampak sangat kuat, tapi kini ia juga harus terpaksa mengkonsumsi obat resep dari dokter tulang.

Masa cutiku habis, saya harus kembali bekerja, berjibaku pada dunia yang akhirnya saya mulai membencinya. Perusahaan ini, menganut kapitalisme, mereka yang kaya tersenyum sambil menginjak leher para buruh pabrik, sayangnya para buruk malah senang. Saya harus mengakui system ini bobrok, tidak adil, tidak manusiawi, tapi sayangnya saya hanya bisa berkeluh kesah, saya sangat membencinya. Saya harus pulang menyusuri jalan-jalan hampa itu.

Saya yang pulang dengan kekhawatiran terhadap ibu malah ibu bersikap serupa. ibu yang khawatir menasehati untuk berhati-hati, musim hujan yang tidak bersahabat pada aspal membasahinya hingga membuat jalan-jalan menjadi licin. Ibu masih saja menasehati agar tidak jatuh sedangkan saya sangat khawatir karna ibu beberapa kali jatuh, saya mengangguk saja dengan hati yang dipenuhi kekhawatiran dan kesedihan.

Pada akhirnya saya harus kembali bekerja, batu loncataan ini belum kuat menumpu kaki untuk melompat ketempat yang lebih tinggi. Saya tidak mengharapkan lagi perusahaan ini menjadi sandaran untuk waktu yang lama, sistemnya betul-betul membuat hatiku terbakar, saya tidak menerima system kapitalisme itu.sialnya saya harus menempuh 300 KM untuk sampai di Morowali, ibu pasti kwatir karna tempat kerjaku kejauhan.

Saya menembus jalan-jalan hampa dengan nasehat ibu. Ibu yang saya sangat cintai masih khawatir pada anaknya ini. Ah hatiku kembali panas padahal sekarang udara mulai membeku di selimuti derasnya hujan menghatam saya yang membelah udara. Kembali saya ratapi jalan-jalan panjang ini dengan kecewa saya harus mengakui pekerjaan ini masih menyisahkan rasa khawatir di hati ibu. Saya bukanya membuatnya senang bahwa anaknya kini dewasa dan hendak pergi kerja malah sebaliknya, saya harus menelan pil kekecewaan ini sepanjang jalan.

Irama hujan yang menghujam aspal-aspal ini membawa saya kesuara nasehat ibu yang khawatir akan hujan dan jalan-jalan yang akan saya lalui. Kembali lagi semangatku panas, saya mengingat resolusi perjuangan yang saya tulis awal bulan kemarin, kembali lagi pikiranku berat tidak kurasakan lagi beratnya helem full face ini. Saya masihvbelum membahagiakan ibu, saya kira akan gampang membuat ibu bahagia namun saya harus mengakui semua tindakanku malah semakin membuatnya khawatir.

Saya mengingat kenangan, betapa gampangnya saya katakan kelak akan saya bahagiakan ibuku. Seseorang entah siapa dalam bayangan itu bertanya kenapa hendak kamu akan bahagiakan ibumu.? Saya kembali menjawabnya dengan gaya remeh temeh itu, siapa lagi yang saya cintai selai ibuku, saya hanya berpisah karna hendak sekolah sejauh ini, jika bersamanya saya tidak akan kemana-mana selain duduk disamping orang yang saya cintai, tidak kah kau lihat bahwa semua gerak gerik itu adalah kecintaanku jawabku saat itu.

Namun kini saya tau itu bukan harapan yang mudah. Dari miliaran ibu didunia mungkin hanya beberapa orang yang akhirnya bahagia atau dibahagiakan anaknya. Iya saya menyadarinya kini, cinta ibu lebih besar dibanding cintaku, bisa saja cintaku besar namun cinta ibu lebih besar lagi. Bisa saja saya mengkhawatirkan ibu namun ibu lebih dan lebih lagi khawatirnya terhadapku. Maka sudahlah saya harus lebih giat lagi berjuang karna ibu belum bahagia sepenuhnya.

Muh. Fajri Salam
2018/01/21
Morowali


INDONESIA TIMUR YANG TERBELAKANG



* KURSI BELAKANG 

(Sumber Foto Google)

Asmat merupakan salah satu bukti diskriminasi ataupun ketidak merataan kehidupan di Negara Republik Indonesia ini. Saya masi ingat dahulu seorang dosen kami mengibaratkan kedudukan, perihal posisi yang harus kita sesuaikan ia menggambarkan kursi depan yang selalu duduk manis dan ditempati oleh orang-orang beruntung, ibarat pembagian makanan atau apa saja pernah kah dibagi dimulai dari kursi belakang.?. tidak pernah selalu dimulai dari kursi paling depan dan kursi paling belakang harus berharap was-was menunggu apakah kebagian atau tidak.? Begininah setidaknya kondisi Indonesia Timur yang berada di daerah terbelakang di Negara ini.

September 2017 kemarin, iya belum lama ini, Gizi buruk melanda masyarakat dibeberapa bagian distrik Kab. Asmat Papua. Saya melhat pemberitaannya tahun kemarin di beberapa blog dan juga akun seorang aktivis yang berasal dari tanah Papua. Mereka sama menyuarakan kondisi yang terjadi di Kab. Asmat. Saat itu media belum seheboh sekarang mengambil bagian untuk mengulurkan tangan, menyambung lidah menyampaikan bela sungkawa dan kabar duka.

Ibu pertiwi selalu menangis, 61 anak dikabarkan meninggal di Kabupaten Asmat. Anak-anak hitam bertubuh kurus dengan perut membesar. Anak-anak yang mengalami gizi buruk selalu rentang menghadapi penyakit yang menerjang. Nyawa dari generasi penerus yang akhirnya lebih memilih tidur dipangkuan Sang Maha Kuasa ketimbang menerima ketidak adilan di Negeri sendiri. kami memang berada di paling belakang, mata kalian tidak sanggup memandang kami, kami tau kalian sudah tua namun tetap kelaparan.

Masih ada ratusan jiwa lagi yang masih terancam. Namun begitulah, kita memang bukan keluarga apa peduli kalian kepada kami yang tidak pernah kalian lihat. Apa peduli kalian selain emas, tembaga, nikel. Bahan galian berat bernilai tinggi itu. Ia jelas kalian tidak akan peduli kepada kami kepada sagu yang menghidupi kami. Kalian hanya akan peduli pada jalan yang kalian permudah untuk mengangkut segala kekayaan yang tidak bisa kami angkat yang kami jaga namun kalian jarah, dengan hati memuram kami mengikhlaskan.

Kami yang dibelang negeri ini. Dibelakang tembok-tembok pencakar langit milik kalian. Digelap hutan kami hanya memandangi gemerlap cahaya sesak membelah malam. Kami yang hanya menyaksi tanpa kebagian disaat kalian membagi-bagiakan hasil jarahan yang katanya akan memberi kami bagian sebagai penjaganya namun kami tidak kebagian. Dan kami yang kebingungan melihat kalian yang manis, cantik dan sehat. Kalian adalah segalanya yang baik-baik. Dan kami hanyalah segala kepasrahan.

Disuatu masa kalian harus menyadari bahwa kalian sudah menjarah bagian terpenting dari kehidupan manusia. Kalian menjarah emas kami untuk bangsa untuk Republik Indonesia, apa yang tidak buat Negara tercinta ini. Kalian menjarah minyak, gas, nikel, tembaga dll, sekali lagi apa yang tidak kami berikan untuk Bangsa ini. Bangsa ini juga bagian dari kami. Namun ketika kalian telah merampas kehidupan kami maka  kami harus bertanya apa kami memang tidak di butuhkan Bangsa ini..?
***
Kabupaten Asmat adaah salah satu Kabupaten di Provinsi Papua, Indonesia. Ibu kota Kabupaten ini terletak di Agats. Kabupaten ini terletak didaerah pesisir pantai atau di pinggir sungai. Transportasi yang digunakan untuk menuju lokasi ini mengunakan speed boat yang kira-kira menghabiskan waktu 3 jam atau 4 jam. Belum lama ini wabah Campak dan juga Gizi buruk merenggut 61 nyawa anak di beberapa distrik. 

Gizi buruk sebagaimana kita ketahui adalah salah satu bentuk malnutrisi. Malnutrisi in adalah kesalahan dalam pemberian nutrisi, bisa berupa kekurangan ataupun kelebihan. Pada dasarnya penyebab gizi buruk adalah kekurangan asupan yang mengandung protein padahal protein ini digunakan oleh tubuh dalam  pembentukan sel-sel baru selain itu juga memperbaiki sel-sel yang rusak. Resiko kemeninggalan anak dengan gizi buruk 13 kali lebih beresiko daripada anak normal.

Penyebab gizi buruk adalah karena tidak memperoleh makanan dengan kandungan dengan energy yang cukup, umumnya ini berkaitan dengan masyarakat yang perekonomianya rendah. Pengetahuan orang tua terhadap malnutrisi juga sangat mempengaruhi terjadinya gizi buruk. Dan pada dasarnya gizi buruk ini bukanlah gangguan yang terjadi mendadak. Kondisi ini berlangsung secara perlahan. Dan apa yang terjadi di Kabupaten Asmat adalah salah satu bentuk kelambanan pemerintah dalam mengatasi ataupun juga memang tidak ada perhatian pemerintah pada wilayah Papua.

Campak adalah suatu inveksi virus yang sangat menular yang ditandai dengan demam, batuk, dan ruam kulit. Penyakit ini disebabkan oleh inveksi virus campak golongan Paramixovirus. Penularan inveksi karena menghirup percikan ludah penderita campak. Kekebalan campak diperoleh setelah vaksinasi. Orang-orang yang rentang terhadap campak adalah bayi berumur 1 tahun, bayi yang tidak mendapatkan imunisasi, remaja dan dewasa yang belum mendapatkan imunisasi kedua. Pencegahan dan pengobatan campak yaitu dengan vaksin campak yang merupakan bagian dari imunisasi rutin pada anak-anak. Selain itu penderita juga harus disarankan untuk istrahat. dan makan-makanan yang bergizi agar kekebalan tubuhnya meningkat.

Wabah campak yang menginfeksi anak-anak gizi buruk di Kabupaten Asmat pada akhirnya semakin diperumit dengan kurangnya pengetahuan dari para orang tua. Ditambah parah lagi dengan kondisi puskesdes yang pegawainya entah kemana disituasi genting seperti ini. Ditambah parah lagi semakin lama berbulan-bulan, berlarut-larut wabah dan kondisi gizi buruk ini, pemerintah kabupaten memberi penanganan yang sangat lamban. Wabah yang tidak mengenal wajah Bupati ataupun Pegawai kesehatan Puskesdes Akhirnya mengakhiri nyawa anak-anak malang ini.

Pada akhirnya semua menyalahkan akses yang rumit, berlumpur, berhari-hari untuk sampai di pusat kesehatan di Ibu Kota Kabupaten, Pasien meninggal sebelum sampai dirumah sakit. Obat-obatan dan segala hal yang diperlukan sangat lamban karena akses jalan yang tidak memadai, biaya yang teramat mahal untuk sampai di distrik-distrik yang terinfeksi campak dan juga gizi buruk. Semua hal tersebut mengambarkan begitu mudahnya membiarkan masyarakat untuk kehilanagn nyawa, hanya cukup diberi harapan bantuan dan juga dimotivasi utuk sabar menunggu.

Kami tau Presiden kami yang tercinta telah membangun komunikasi yang baik dengan pemerintah daerah. Entah daerah manapun itu diwilayah timur Indonesia, namun kesemuanya meruncing pada rakyat. Kemakmuran dan keadilan itu yang harusnya tercapai. Dan realita yang terjadi adalah kami rakyat tidak merasakan kemakmuran itu, mungkin saja kemakmuran itu hanya milik segelintir rakyat yang punya jabatan sekelas pemerintah daerah kabupaten kecamatan atau desa. Dan tak ada setetes kemakmuran sedikitpun yang berakibat pada tubuh-tubuh anak-anak bergizi buruk.

Sekeras apapun pemerintah bersuara. Pendapat juga kebijakanya yang ditulis di media kiri kanan. Diberitakan rekamanya diulang berhari hari sepanjang  jaman pun tak akan ada pengaruhnya, yang dilihat adalah Rakyat. Karna sesungguhnya pemerintah hanyalah pengawal dari segala hak-hak dan kewajiban rakyatnya. Dan apa kabar semua kebijakan yang katanya tertata denga struktur yang rapi dari atas kebawah itu jika rakyatnya gizi buruk dan puluhan anak meninggal.?

Muh. Fajri Salam
2018/01/19
Morowali

SERBA SERBI MOROWALI



(Sumber Foto Mas Google)

Morowali ibu kota Sulawesi Tengah, daerah yang mungkin tidak asing lagi ditelinga pribumi. Daerah ini dijuluki daerah seribu tambang. Memang didaerah ini kata tambang dan istilah-istilah tambang semisal Ore dan lain-lain sudah familiar dibibir masyarakat Morowali. Tidak hanya tambangnya Morowali juga memiliki eksotisme pada parawisata lautnya, walaupun belum ter ekspos dalam skala nasional dan internasional seperti Wakatobi, Bali, Raja Ampat, Derawan. Morowali memiliki primadona yakni Pulau Sambori yang menyerupai Raja Ampat.
Belakangan ini banyak masyarakat dari beberapa daerah di sekitar Sulawesi Tengah bertransmigrasi kelokasi-lokasi tambang yang berada di Sulawesi Tengah. Jika mengunjungi salah satu daerah industri di Morowali seperti Bahodopi yang sekarang terkenal dengan Industri smelter terbesar di Asia Tenggara, didaerah ini kita akan disuguhi dengan pemandangan yang berbeda dengan pedesaan lain. desa ini dibanjiri oleh masyarakat dari berbagai daerah di Sulawesi. 

Etnis yang paling banyak memadati desa ini berasal dari daerah Palopo dan Tanah Toraja. Kabarnya di dinas Catatan Sipil kedua daerah tersebut sudah kewalahan dan menghentikan masyarakatnya yang berpindah penduduk ke daerah Morowali. Sulawesi Tenggara juga yang secara Geografis lebis dekat dengan Morowali tidak kalah. Fenomena ini menggambarkan masih banyaknya angka pengangguran yang tidak bisa diatasi oleh ketersediaan lapangan pekerjaan di daerah Sulawesi.

Jika membahas angka pengangguran kabarnya masih ada ribuan berkas yang belum diproses oleh salah satu perusahaan industri smelter yang merupakan tujuan masyarakat yang bertransmigrasi ke Sulawesi Tengah. Jadi jika kabarnya ribuan tenaga kerja sudah ditampung oleh perusahaan tersebut maka masih ada ribuan pengangguran juga yang masih menunggu kemurahan hati perusahaan. Angka ribuan ini menggambarkan sulitnya mencari kehidupan di bumi pertiwi.

Secara umum memang Presiden kita yang tercinta memotivasi rakyatnya untuk kerja-kerja dan kerja. Namun bagi masyarakat Sulawesi yang dalam kehidupanya memang tidak bisa disamakan dengan masyarakat yang berasal daerah Jawa. Tidak semua masyarakat Sulawesi mampu memanfaatkan kemajuan teknologi, mampu mengembangkan inovasi dan kreatifitas untuk membangun sebuah usaha kreatif. Jika dilihat secara dekat masyarakat disini masih menerapkan pola kehidupan ikut tren. Contohnya jika si A bisnis Online dan menguntungkan maka yang lain akan mulai melirik bisnis tersebut dan menjiblaknya.

Begitu pula yang terjadi jika tetangganya ke Morowali dan sebulan atau tiga bulan kemudian mampu mencicil motor R15 maka daripada main domino atau Song ditongkrongan lebih baik pergi merantau seperti si tetangga yang sudah mampu mencicil R15. Industri pabrik memang menampung masyarakat dari berbagai latar belakang. Ia tidak memandang status sertifikat yang ia miliki kebanyakan dari pekerja pabrik hanya bermodalkan kesiapan dan kesungguhan untuk bekerja saja. Kuantitas lebih dikedepankan daripada kualitas, baginya kualitas itu urusan standar operasional yang jika dilihat sebenarnya standar adalah kualitas yang melindungi pekerja. 

Kehidupan di Bahodopi salah satu desa di Morowali memang sangat mencengangkan. Industri pabrik itu memang masih dalam status pembangunan namun sudah melakukan prosuksi. Badan audit mungkin terlambat atau mungkin saja sengaja untuk belum mengaudit. Kehidupan didesa ini mungkin akan sangat menarik jika dilihat dari kaca mata politik dan ekomoni dengan melihat perputaran ekonomi didesa yakni masyarakat yang memiliki akses yang jauh dengan perkotaan memaksa perputaran tersebut beporos disatu titik yakni lingkaran desa Bahodopi dan sekitarnya. Dan politik masing-masing desa memegang nama-nama masyarakat yang bertansmigrasi dari sekitar Sulawesi, arah politik sepertinya akan sangat mudah dibaca kemana suara akan mengalir dan ke rekening kepala desa mana aka mengalir.

Satu hal lagi yang luput dari pemberitaan, atau mungkin memang media memang dikendalikan. Mungkin melihat masyarakat yang berasal dari negeri china di bandara Kota Kendari bukan lagi pemandangan yang baru. Mereka bukanlah wisatawan yang hendak menghabiskan uangnya di Taman Nasional Wakatobi, atau ke Bunaken seperti visa wisata yang mereka pegang. Mereka adalah pekerja lain yang membanjiri desa Bahodopi dan industri tambang dimana investasi pengusaha china terdapat situ. Sekali lagi kita harus mempertanyakan segala hal yang terjadi dinegara kita tak terkecuali ribuan warga China yang membanjiri desa Bahodopi dan Morosi Sulawesi Tenggara

***
Semua hal diatas adalah sedikit gambaran singkat yang terjadi di Morowali terkhusus  untk daerah-daerah yang memiliki industri pabrik maupun pertambangan. Kita dapat menimbang hal positive dan negatifnya. Disatu sisi ribuan pekerja berasal dari pribumi yang sebelumnya kewalahan mencari kerja di negeri sendiri akhirnya mempunyai tempat sandaran untuk menaikan taraf hidup. Disisi lain ribuan pekerja asing yang statusnya dipertanyakan, apakah sebegitu tidak percayanya Negara kepada rakyatnya sendiri sehingga ribuan asing ini masuk bekerja begitu saja dengan mudah menggantikan posisi-posisi yang harusnya ditempati oleh rakyat sendiri.

Disisi lain kita harus menelaan kembali kemana arah kesejahteraan industri pabrik dan pertambangan ini, kantong siapa yang akhirnya tebal. Beberapa hari ini saya melihat di media massa memberitakan devisa Negara Tiongkok yang semakin naik, semakin maju, juga diringi dengan kemajuan devisa Negara Indonesia yang perlahan merangkak walaupun tidak signifikan. Kita mungkin sekarang sedang mengangumi China sebagai Negara asia yang mampu bersaing dikancah internasional. Namun pernahkah kita berpikir apa yang mereka lakukan hingga seperti itu, mungkin saja mereka punya banyak bidang yang memberi kemajuan di negaranya namun kita juga harus mempertanyakan kemajuan di bidang industri yang dimana negeri kita sendiri dijadikan lahanya.

Segala hal tersebut patut kita pertanyakan. Kita adalah masyarakat yang dijamin kesejahteraan dan kemakmuranya oleh Negara, juga keadilan. Masyarakat Sulawesi mungkin masih banyak yang terbelakang. Saya sudah menyusuri daerah Morowali sampai ke Sulawesi Tenggara, pemandangan pegunungan yang ompong denga hutanya yang sudah ditelanjang menjadi pemandangan yang menghantui sepanjang perjalanan. Pedesaan yang terisolasi memang akan menjadi tempat yang nyaman untuk bersembunyi. Apalagi jika bersembunyi di tengah-tengah harta karun sesekali-keluar untuk berfoya-foya mungkin itulah yang sebenarnya sedang terjadi. Hutan-hutan yang ditelanjangi itu kemana arahnya kesejahteraanya. 

Saya selalu mendoakan yang terbaik untuk negeriku. Semoga saja tanah kelahiranku Sulawesi yang diberkahi tidak di kapitalisasi. Semoga saja kesejahteraan menaungi masyarakat yang kesusahan mencari pekerjaan. semoga saja semua ketidak wajaran yang menghantui tanah Sulawesi ini hanya mimpi belaka. Dan jika ini hanyalah mimpi lekaslah bangun dan berbenah. kesadaraan yang kita perlukan sebagai manusia. Sekali lagi kita harus cepat sadar dan menyadari.

Muh. Fajri Salam
2018/01/15
Kota Semerbak

Popular